2014… hmmm… mulai nulis lagi ahhh =)

Assalamualaikum..

Kangen pengen nulis, setelah berhenti sekian lama..

banyak hal yang sudah kubuat, namun tidak sempat tertuliskan dalam blog unyu-unyu ini.. hehe.. kata ‘unyu-unyu’ lg nge’trend di tahun 2013…

Alhamdulillah metamorfosaku di tahun 2012 dan 2013 banyak sekali…

mengajar, meneliti, menikah, dan hamil :).. Subhanallah..

sehingga di tahun 2014, akan kutuliskan semua yang pernah kutulis, kuteliti, kualami dan banyak hal lucu, dan bahagia,.. Yang sedih-sedih kita ekslusifkan saja ya..hehe..

Insya Allah nantinya akan ada beberapa kategori mulai dari akademis/scientific, warna-warni, taujih dan kata mutiara serta hari-hariku…

selamat menanti tulisan baruku ya…

Wassalamualaikum

Blog’ku tersayang blog’ku malang ^^v

Blog’ku yang malang.. udah setahun silam aku tak menulis lagi.. (menulis di blog ini),. tulisanku lebih banyak kucurahkan di FB ^^.. hingga suatu saat ada yang komen lagi pada tulisan yang kutulis maret 2009 (so..long..^^)…setelah kupikir-pikir, lebih baik ku menghidupkan lagi blog’ku (emang pernah hidup..??hehe..)

untuk awal ini cukuplah tulisan pembuka ini.., selanjutnya nanti aka diusahakan berbagai tulisan, mungkin lebih cocok mengenai riset, paper, atau bahan ringan lainnya.. dan puisi-puisiku tentunya…^^, semoga tahun 2010 ini dapat dijadikan momentum terbitnya kembali blog’ku yang terlantar..=)

kadang terlupa.. lama terlena.., kenapa terlupa, bila satu paragraf saja pun bisa.. jangan berhenti menulis, maka pada detik itu juga kau menyia-nyiakan kinerja otakmu,..sayang,,. ^^

 

gundah gulita… t_t

pernahkah kita merasa sendiri…
merasa lelah..
penat…


tak tau akan melakukan apa..
mau kemana..
apa….
….
….
terdiam..
pikiran melayang…
namun dada terasa sesak,,,

gundah..
sekaligus gulita…

gundah karena tak tau harus apa..
gulita karena tak ada asa…

ALLAH sembuhkan hatiku..
hati yang lelah..
hati yang gundah..
hati yang mulai gulita,.

….. aku percaya pada hatiku……
karena hati mampu menyembuhkan dirinya sendiri,,,
ALLAH….
HELP me….hanya pada MU ku percayakan kesembuhan hatiku….

^_^….

Cinta…????(“,)

Suatu ketika terjadi miss understanding antara kami dengan prof kami, rencananya sih kuliah Arsitektur Indonesia eh.. ternyata Pak’e malah ngajar tentang mata kuliah permukiman, haha. Akhirnya untuk menebus kesalahan itu kami diajarkan mata kuliah tambahan yang sangat unik, aneh mungkin. Hehe. Ya, mata kuliahnya berjudul ‘ Filosofi Cinta”. Waduh, nih jurusan apa ya??? Hahaha. Tapi sangat menarik kok.

 

Bermula dari cerita mengenai kenaikan BBM (yang lagi booming saat itu, saat ini juga ya..), trus, berlanjut pada bahasan mengenai permasalahan-permasalahan seputar kota, gimana ternyata kalau dipikir-pikir sebenarnya pemerintah sudah memiliki program-program penanganan, tapi kenapa kok masih banyak sekali permasalahan yang terjadi. Contohnya saja pemberian BLT pada masyarakat guna mengatasi kenaikan BBM, usaha juga khan berarti pemerintah. Tapi kadang kalau dipikir-pikir konyol juga sih karena dampak kenaikan BBM itu kan sangat menyeluruh dan tidak mungkin BLT mampu menutupi kerugian yang diakibatkan oleh kenaikan tersebut. Jadi usaha boleh dibilang bagus, tapi ga menyentuh permasalahan. Hal inilah yang disebut prof kami dengan sebutan pemerintah ini sedang menerapkan ’filosofi cinta’. Waduh, maksudnya apa ya??. Ketika seseorang  mencintai, maka dia akan mencoba tampil menarik, dan memberian yang terbaik pada yang di cintai. Dan kadang perhatian yang diberikan cenderung berlebihan dan naasnya jika perhatian itu bikin orang yang dicintai malah jadi sebel. Jadi ingat lagunya mocca, ’secret admirer’, pas lirik..; oh you look so annoying…”””. lha itu dia yang dimaksudkan pemerintah sedang jatuh cinta pada rakyatnya, sehingga sebenarnya ingin memberikan apapun, tapi tidak pernah tahu sebenarnya perhatian seperti apa yang dibutuhkan, sesuai di hati atau  tidak atau menyentuh hati atau tidak, tidak perhatian yang asal diberikan tanpa tahu si penerima perhatian sebenarnya ga menangkap maksud atau malah parahnya bisa menderita. Jadi ingat lagunya d’massive .. cinta ini membunuhku.. hehe. Waduh ini kok jadi lirik lagu semua.. J. Tidak apa-apa tho, kadang kita butuh bahasan yang ringan walaupun sedang membicarakan masalah yang sangat kompleks.

 

Jadi bisa dimengerti bukan, bahwa sebagai pemerintah, atau penentu kebijakan, atau akademisi yang ingin berpartisipasi memecahkan permasalahan, pastikan bahwa anda tidak menerapkan filosofi cinta yang buta ini. Hehe. Pahamilah inti permasalahannya, lakukan rencana tindak yang tepat, laksanakan…J.

Kebohongan pertamaKu

Pernahkah kita berbohong, mungkin sering kali ya, baik sengaja atau sangat disengajaJ.. namanya bohong khan memang tidak ada yang ‘tidak sengaja’. Kebohongan pertama ya mungkin juga bukan yang pertama, tetapi ada satu kebohongan yang masih saya ingat betul sampai saat ini. Mungkin karena waktu itu saya sudah menjadi manusia yang bertanggung jawab dan tahu dosa J.

 

Waktu itu saya duduk di kelas 4 SD, wali kelasku yang sangat saya hormati dan kagumi saat itu adalah Bu Romelah, saya memanggilnya Bu Rom (Maafkan saya ya buJ). Suatu saat menjelang sekolah usai, Bu Rom memberi tugas mengarang pengalaman menarik baik pengalaman lucu, sedih atau cerita konyol yang sangat berkesan tentunya. Tugas ini sengaja diberi untuk mengisi hari Minggu kami. Anak-anak menyambut dengan gemuruh, karena masing-masing sudah mulai membayangkan cerita apa yang akan ditulis. Tetapi ada satu anak perempuan yang sedang bimbang sambil menopang dagunya dan dengan pandangan ke langit-langit kelas, seakan sedang mencari sesuatu, sekilas nampak dia memejamkan mata, membuka mata, geleng-geleng kepala mirip kambing congekJ. Ya, itulah diri saya yang selalu stress setiap kali ada tugas mengarang, bikin puisi dan kawan-kawannya :p. Apalagi saat itu tugasnya berkaitan dengan pengalaman pribadi. Sangat mudah padahal, karena saya merasa setiap hari bagiku banyak pengalaman menarik yang saya temui. Tapi sepertinya tidak menarik untuk dibagi dan menjadi cerita yang pantas untuk disampaikan di depan kelas senin mendatang. Uhhh.. apa ya?? Sepulang selolah, saya tidak bisa makan, acara nonton tv pun setiap jam 8 saya lewatkan begitu saja (waktu itu lagi gandrung Mc Giyver, salah ya nulisnyaJ). Hari minggu yang biasa saya lewatkan dengan main badminton dengan teman kampung juga saya lewatkan. Saya hanya merenung di ruang tamu yang memang jadi tempat perenungan saya. Saya menghabiskan banyak waktu dari pagi-siang-sore dan akhirnya tibalah malam hari. kegundahan mulai menyerang, mengingat esok pagi saya harus membuat sebuah cerita yang harus dipresentasikan. Tapi di depanku hanya ada kertas yang masih kosong. Hingga saya menobatkan bahasa indonesia sebagai momok terbesar dalam hidup saya.. aneh memang, di saat teman-teman lagi benci dengan matematika, eh saya malah benci dengan bahasa ibu pertiwi J. Lama saya merenung, hingga lewat jam 9 malam, padahal ketika jaman itu (jaman apa yaJ), jam 9 malam saya sudah harus tidur, karena siaran dunia dalam berita sudah tiba.haha. (jadi kangen dengan acara TVRI ituJ). Di tengah-tengah kegundahan itu, akhirnya melintas pikiran jahat yang sangat saya sesali saat ini.. dan akhirnya saya memutuskan untuk mengarang indah, haha, alias saya akan membuat cerita fiktif, ya mengingat saya ahli dalam menghayal, mengarang cerita bohong akan sangat mudah. Dan saya yakin pasti sangat lucu, dijamin yang mendengar cerita saya pasti aan terpingkal-pingkal. Hanya dalam waktu 10 menit saja saya sudah membuat cerita lucu yang niatnya adalah sebagai pengalaman pribadi yang nyata J, yang dengan secara jahat saya manipulasi. Jadilah cerita itu menjadi cerita indah yang tertulis rapi sepanjang 2 halaman penuh. Fiuhhhh.. akhirnya finish juga. Tapi tetap dengan rasa gundah, rasa bersalah dan seringai jahat tentunya. Hihihi.

 

Pagi yang tak dinanti sudah tiba, dengan malas saya bersepeda menuju sekolah tercintaku. Anak-anak sudah sangat bersemangat kelihatannya, mereka saling menceritakan apa yang mereka ceritakan, ada yang sedang asyik mengedit karangannya, ada yang sedang asik ngelitain kerjaan temannya modar-mandir tak tentu. Dan seperti biasa anak perempuan satu ini masih dengan perasaan gundah dan penuh rasa bersalah. Sumpah, sampai-sampai wajahnya pucat, mungkin ini merupakan dosa pertama yang paling disadari. L.

 

Ema umilia, ya.. namaku dipanggil oleh Bu Romlah, setelah giliran ’Buang’, ini benar nama orang lho, nama temanku di SD dulu (kamu dimana ya? J), melihat namanya aja sudah lucu, apalagi melihat orangnya, sangat kocak, dan cerita dia berhasil membuat kelas begitu bergemuruh. Sialnya aku dipanggi setelah dia, ya pastinya karya masterpiece ku ini. Huhu. Akan dibandingkan langsung. Jadi perasaan bercampur, bersalah, gundanh, dan tengsin.hehe.

 

Perlahan tapi terpaksa, saya melangkah ke depan kelas, di samping Bu Romlah yang duduk di meja guru. Bu Rom melemparkan senyum, tanda saya sudah dipersilahkan untuk bercerita. Saya pun bercerita, cerita yang sangat lucu (saya malu menceritakannya di sini, karena memang benar-benar konyol). Suasana kelas sangat bergemuruh, anak-anak pun terpingkal-pingkal, bahkan Buang pun tidak bisa menahan diri, dia meloncat-loncat karena geli. Saya sangat bangga waktu itu, karena karya saya berhasil membuat semua teman-teman saya tertawa lebih heboh lagi ketimbang ketika si Buang maju sebelumnya. Namun, ada satu hal yang membuat saya sangat sedih, yaitu ketika melihat Bu Rom tertawa lebar, belum pernah saya melihat beliau seperti itu, beliau selalu berperangai sangat tenang dan berwibawa, tertawa pun sangat irit tidak berlebihan, paling juga senyum simpul. Tapi kali ini berbeda, beliau seperti lepas kontrol hingga ketawanya begitu lepas, air matanya pun tak tertahankan keluar. Saat itu air mata saya langsung mengalir, rasa bersalah, kebohongan pertamaku, kebohongan publik malah, karena begitu banyak yang dibohongiJ. Tapi mereka semua mengira air mata saya adalah air mata haru. Padahal saat itu saya ingin bilang kalau itu hanya cerita fiktif. Huhuhu. Ditambah lagi komentar Bu Rom ketika beliau sudah bisa menahan diri. ’lucu sekali ceritamu, ibu baru pertama ini mendengar pengalaman yang sangat lucu seperti pengalamanmu itu’, hahaha. Lanjutnya.

 

Sepulang sekolah, saya kembali termenung, acara televisi sore saya lewatkan (kayaknya ksatria baja hitam, waktu itu sudah evolusi jadi RX Bio kalau tidak salah J). Saya tidak bisa tidur, dalam mimpi pun saya memikirkan Tawa Bu Rom.

 

Kebohongan pertama itu yang menempa saya untuk selalu jujur di segala kondisi.

 

84

oh, tidak terasa uda satu bulan semenjak terbitnya blog ini. saat ini tepat jumlah pengunjung saya 84 orang..hehe sesuai dengan nama blog, dan tahun lahir saya juga sih.. dan kebetulan juga hari ini tanggalnya cantik sekali 08-08-’08.. merdeka!!!!. eh belum kok belum tanggal 17 Agustus, tapi tidak mengapa, yang penting semangat tetap berkobar. Rawe-rawe rantas malang-malang tuntas..!!!!.. apa ya artinya?? hahaha. semangat, chayoo, ganbate kudasai pokoke!!

Rumahku Istanaku

Satu yang paling saya ingat ketika pertama kali saya masuk kuliah adalah pertanyaan dosen wali saya mengenai buku apa yang pernah saya baca mengenai perumahan. Sesaat saya terdiam, tidak hanya itu saya terhenyak. Karena menunjukkan ke’awam’ an saya mengenai perumahan. Walaupun di S1 pernah dapat 2 sks, tapi tak pernah sekalipun saya baca buku, paling cuma dapat modul, dan memang lebih praktis ketimbang teoritis, saya dulu langsung survey, analisis, laporan, sudah selesai deh, tanpa harus memikirkan pake teori apa, komparasi variabel dan segala macamnya J. Di dalam keter’diam’an saya, dosen wali saya hanya tersenyum. Seminggu kemudian saya dipanggil untuk menentukan jadwal kuliah penyegaran (privat pula J), selama satu semester penuh saya diwajibkan baca buku-buku tentang perumahan dan permukiman. Dari buku yang tebalnya 5 cm sampe yang 15 cm haha, tapi pengalaman yang menyenangkan sekaligus bikin tidur malam tidak tenang (apalagi yang bahasa inggris J).

 

Satu hal yang membuat saya terpikat adalah bukunya JFC. Turner “Housing By People”, kecil mungil, Cuma 5 eh tidak 3 cm kok tebalnya. Tapi isinya membuat saya sadar mengapa dosen saya begitu getol memberikan kuliah privat bagi saya. Karena memang saya harus disadarkan J. Begini ceritanya;

 

Dulu, sebagai seorang planner (perencana kota), yang ada di benak saya ketika mendengar kata perumahan dan permukiman pasti yang terbayang adalah berapa jumlah proyeksi penduduk 5 atau 10 tahun mendatang, asumsi kasar 1 rumah ada 5 orang, jadi jumlah total proyeksi penduduk dibagi 5. Beres deh, ketemu hasil jumlah kebutuhan rumah. Tinggal dikali luasan untuk rumah sehat, ketemu deh luasan kawasan perumahan. Plot deh di kawasan yang aman bagi perumahan. Kalo misalnya sudah padat, tinggal dipikirkan alternatif lain, misal rumah susun, atau kebijakan distribusi penduduk ke tempat lain yang lebih memadai. Rencana SELESAI !!!… hehe (so simple…).

 

Pendekatan di atas memang sangat sederhana dan cukup logis, metode sangat jelas dan terukur, mengingat pendekatan yang digunakan kuantitatif. Inilah yang menjadi titik perhatian saya ketika membaca bukunya JFC Turner. Ada banyak sudut pandang yang sangat berbeda, yang saya sendiri masih bingung bagaimanakah seharusnya pendekatan yang tepat.

Dalam bukunya, Turner mengatakan salah satu jargon yang paling terkenal bagi ahli perumahan tentunya yaitu; ’Housing as a Verb’ Vs ’Housing as a Noun’. Housing as a verb berarti bahwa rumah tidak hanya di pandang sebagai kata benda (noun) dimana seringkali perencana atau pengambil kebijakan  (seperti saya ini J) memandang kebutuhan rumah hanya melalui perhitungan kuantitatif saja menyangkut demand dan supply unit-unit rumah. Housing as a verb adalah pandangan bahwa rumah merupakan tempat penghidupan seseorang dimana dia (rumah itu) memungkinkan seseorang untuk bertahan hidup dan meningkatkan taraf hidupnya. Sebuah rumah bukan hanya sebagai unit hunian saja melainkan suatu sarana bagi penghuninya untuk memperoleh kesejahteraan. Jadi benar sekali jika ada ungkapan Rumahku Istanaku..

 

Jadi selayaknya pendekatan dalam pengambilan keputusan masalah perumahan dan permukiman tidak berkutat pada menghitung kekurangan unit rumah saja, melainkan bagaimana menyediakan rumah yang membuat penghuninya lebih produktif dan sejahtera.. so what do we do??

 

Dalam bukunya Pak Turner dijelaskan fenomena yang sangat menarik; pak Turner melakukan survey pada rumah-rumah di Brazil ada beberapa tipe rumah yang disurvey untuk melihat seberapa besar ’nilai rumah/housing value’ tersebut bagi penghuninya. Rumah satu, rumahnya tukang cat yang berupa kardus-kardus bekas, sedangkan rumah dua adalah rumah sederhana yang merupakan rumah yang disediakan bagi korban penggusuran. Ternyata, setelah disurvey oleh pak Turner, beliau mendapati bahwa ternyata dalam hal peningkatan taraf hidup dan kemampuan bertahan hidup (uang makan, sewa, jarak dari tempat kerja, kekerabatan, biaya prasarana dan sarana) rumah satu memiliki nilai rumah/ housing value yang lebih tinggi ketimbang rumah dua, padahal jika ditinjau dalam hal kualitas rumah, pasti kita sepakat rumah dua lebih baik.

Disinilah yang membuat saya tercengang, karena ternyata rumah tidak bisa hanya dipandang dalam hal fisik baik jumlah maupun kondisi/kualitas fisiknya saja, tetapi harusnya kita juga harus memikirkan apakah penghuninya dapat meningkatkan taraf hidupnya.

Jadi bagaimana seharusnya planner seperti saya ini harus bertindak.. cieee… eng…ing..eng… begini alternatifnya:

*      Pendekatan kuantitatif mutlak mesti dilakukan, lha gimana mau proyeksi kalo tidak ada data kuantitatif. Betuul ga.. J , tapi harus lebih akurat (ga bisa kasar kayak contoh saya di atas J).

*      Namun, bisa jadi kita bisa lebih banyak berbuat pada saat ploting zona perumahan. Karena letaknya harus kita analisis sedalam mungkin, bagaimana lokasi tersebut menjadi sangat strategis bagi si penghuni baik baik dari segi ekonomi, sosial, politik juga hehe.

*      Terkait dengan kebijakan penataan kawasan permukiman tradisional misal kampung, dan juga kawasan permukiman squatter dan slum area . hal ini yang patut kita pikirkan, karena bagaimanapun juga jika kita seksama menyadari bahwa walaupun kondisi rumah kurang layak, toh mereka masih bisa bertahan hidup bahkan sangat ’survive’. Jadi sebenarnya suka tidak suka kawasan-kawasan tersebut juga merupakan aset bagi kota untuk menampung warganya, disamping yang disediakan oleh perumahan-perumahan tentunya.

*      Sehingga kebijakan perumahan, selain menambah hunian melalui pembangunan perumahan (ini nanti akan dibahas selanjutnya, sebenarnya kalangan mana yang lebih dilayani?? 😉 ), kebijakan perumahan juga harus juga memihak pada rumah-rumah yang didirikan oleh masyarakat kecil (di kampung, diupayakan legal), kebijakan yang telah ada di Surabaya misalnya KIP (Kampung Improvement Program) yang dinilai cukup berhasil merevitalisasi kampung Surabaya. Harusnya ketika jumlah rumah-rumah ini yang masih mendominasi kota, maka kebijakan seperti KIP juga perlu digalakkan juga.

*      Jadi secara keseluruhan kita perlu menganalisis secara mendalam pemenuhan kebutuhan perumahan layak yang benar-benar menyentuh permasalahan di lapangan, tidak hanya mereka-reka jumlah yang mungkin bisa jadi sangat abstrak.

 

Begitulah sebenarnya esensi dari perumahan, ya walaupun sangat singkat dan banyak saya potong di sana-sini, tapi mudah-mudahan memberikan gambaran bagi kita semua tentang hakekat sebuah rumah (ciee.. :)). Rumahku Istanaku, lebih dari sebuah hunian, lebih dari sebuah materi, melainkan juga sebagai penunjang kehidupan bagi penghuninya.